Kamis, 25 Juli 2013

Asal usul Martabak lebaksiu

Martabak adalah sejenis
makanan khas dari negeri India
sejak dahulu hingga sekarang. Di
Indonesia ada dua jenis
martabak.
Pertama adalah martabak telor,
yang kedua adalah martabak
terang bulan atau biasa disebut
martabak manis.Di India
martabak, susunannya adalah
sebagia berikut :
Adonan tepung terigu yang
dibentuk sebesar telur bayam,
dibanting, dilebarkan diatas kaca,
marmer atau seng, setelah
membentuk ukuran berdiameter
kurang lebih 40 cm, kemudian
diisi telur/kentang dan digoreng.
Setelah itu dihidangkan dengan
kare kambing/gulai. Itulah
aslinya martabak telur atau di
India disebut moortaba.
Di negeri India, makanan lain
sejenis martabak telur adalah :
Nan, Roti Cane, Chappaty, Purata,
Poory, Samosa. Makanan-
makanan teresbut masuk pada
kategori makanan sedang/
ringan. Dan bisa juga menjadi
menu makanan utama disana.
Kemudian bagaimana dengan
martabak terang bulan/martabak
manis ? jenis ini baik bentuk, isi
dan rasanya sama sekali tidak
ditemukan di negeri India.
Makanan yang rasanya manis ini,
adalah sejenis roti/kue manis –
cake atau pasta. Yang di
hidangkan sebagai sarapan
pagi /santai bersama minum
kopi atau teh maupun teh susu
atau “Chaa” yang biasa juga
disebut di Malaysia namanya Teh
Tarik.
.
ASAL USUL MARTABAK DARI
LEBAKSIU
Pada sekitar awal tahun 1930-an,
beberapa pemuda asal daerah
lebaksiu kabupaten Tegal
mengadu nasib dengan
berjualan makanan atau mainan
anak-anak pada setiap ada
perayaan di kota-kota, seperti
kota Semarang. Di kota inilah
salah seorang pemuda yang
bernama Ahmad bin Kyai Abdul
Karim berkenalan dengan
seorang pemuda berasal dari
negeri India bernama Abdullah
bin Hasan Almalibary.
Dari hasil persahabatan mereka,
maka Abdullah diajaklah
berkunjung ke kampung
halaman Ahmad di desa Lebaksiu
kidul kecamatan Lebaksiu
Kabupaten Tegal Jawa Tengah.
Abdullah berkenalan dengan adik
perempuan Ahmad yang
bernama Masni binti Kyai Abdul
Karim.
Kemudian Abdullah
mempersunting Masni adik
perempuan Ahmad pada tahun
1935. Abdullah atau biasa
disebut Tuan Duloh adalah
seorang saudagar/pengusaha
pada zaman itu. Salah satu
keahlian Abdullah adalah
membuat makanan yang terbuat
dari adonan terigu yang
bernama Martabak.
Didalam kisah perjalanan
Abdullah ini, dari beberapa
narasumber baik yang sudah
meninggal maupun yang masih
hidup diantaranya : Abdul Wahid
bin Kyai Abdul Karim 85 tahun,
Mawardi bin Kyai Abdul Karim 80
tahun, H. Abdul Kadir Bayasut 80
tahun (keturunan Arab), H.
Katikaren Abdul Kadir 80 tahun
(keturunan India), dan beberapa
tokoh-tokoh lainnya
membenarkan kisah tersebut
diatas.
Adalah suatu kenyataan bahwa
martabak yang dibuat oleh
Abdullah, sangat berbeda
dengan martabak yang aslinya
dari India.
.
Susunan Bahan Dasar Martabak
Telor.
Adonan tepung terigu yang
dibentuk bulat sebesar telur
ayam, kemudian dibanting,
dilebarkan diatas kaca, marmer
atau seng. Setelah membentuk
lingkaran berdiameter kurang
lebih 40 cm, kemudian diisi
dengan campuran telur, sayuran,
irisan-irisan kecil daging yang
telah dimasak dengan bumbu-
bumbu. Kemudian digoreng, dan
kemudian bisa langsung
dihidangkan tanpa kare
kambing/gulai.
Dialah salah satu diantar
pemuda-pemuda India yang
berhasil membuat perubahan
atau modifikasi Martabak dari
aslinya. Menurut narasumber hal
ini disesuaikan dengan cita rasa
maupun kebiasaan masyarakat
di Indonesia khususnya di Tanah
Jawa yang pada umumnya
gemar makan sayur-sayuran dan
tidak terlalu suka mengkonsumsi
daging berlebihan. Itulah yang
menjadi alasan utama mengapa
modifikasi martabak itu terjadi.
Sampai sekarang ini, jenis
Martabak telor yang beredar
hampir diseluruh pelosok
Indonesia, adalah merupakan
hasil modifikasi dari yang aslinya.
Martabak terang bulan/martabak
manis. Konon menurut kisah
disebut terang bulan, karena
bentuknya bulat seperti bulan
purnama. Martabak manis ini
dibuat dengan bahan-bahan
dasar adonan tepug terigu, gula,
telor, dan lain-lain. Dan dicetak
dengan cetakan piring seng
dengan ukuran kurang lebih 20
cm dan dipasang tangkai pipa
besi. Dipanggang dan
digoyangkan diatas bara api,
arang kayu, maupun kompor
minyak. Sering martabak terang
bulan ini disebut juga martabak
“goyang”. Isi atau bumbu-
bumbunya adalah olesan
mentega/margarine, susu, selai
pepaya, selai nanas, meises,
kacang dan lain-lain.
Pada sekitar tahun 1950-an,
terjadilah modifikasi baik bentuk
maupun ukuran dan rasa
martabak manis. Cetakannya
terbuat dari besi cor / cor
perunggu,cor kuningan dengan
ukuran 18/20 cm, 20/22 cm,
22/24 cm, 24/26 cm, 26/28 cm,
28/30 cm. Dengan isi atau
bumbu-bumbunya adalah susu,
kacang, keju, meises, wijen,
kismis, durian, dan lain
sebagainya.
Keahlian Abdullah diajarkan
kepada kerabat dekat istrinya
maupun tetangga-tetangganya.
Tercatatlah nama-nama sebagai
berikut :
1. Ahmad bin Kyai Abdul Karim
(Alm)
2. Abdul Manaf bin Kyai Abdul
Karim (Alm)
3. Abdul Wahid bin Kyai Abdul
Karim
4. Mawardi bin Kyai Abdul
Karim
5. Rifai bin Kyai Abdul Karim
(Alm)
6. Djari (Haji Umar) bin Haji
Mas’ud (Alm)
7. Maktub bin Haji Mas’ud
(Alm)
8. Dja’i bin Haji Sueb (Alm)
9. Ali bin Haji Sueb (Alm)
10. Rumli bi Sanadi (Alm)
11. Tamyid
12. Tuwuh
Dan masih banyak lagi nama-
nama yang tidak bisa disebutkan
satu persatu. Ini adalah
merupakan generasi kedua
setelah Abdullah.
Abdullah bersama mereka-
merekalah yang
memperkenalkan martabak pada
setiap ada keramaian di pasar-
pasar malam di kota-kota besar
khususnya di pulau jawa.
Keramaian-keramaian seperti
Sekatenan di Jogjakarta,
Dugderan di Semarang,
Mauludan di Cirebon-Trusmi, dan
pasar malam di pabrik-pabrik
tebu pada perayaan permulaan
giling (metik).
Bisnis-bisnis Abdullah yang
ditekuninya sekitar tahun 1935 –
1955 antara lain : “Rumah Makan
India Moslem” di Slawi,
“Meubeler” di Lebaksiu dan
pengelola dibeberapa pasar
malam.
Tersebutlah nama-nama rekan-
rekan Abdullah senegara dari
India pada kurun waktu antara
1930 – 1960 adalah :
1. Tuan Hasan di Semarang
2. Tuan Muhammad di Yogya
3. Tuan Haji Sayeed Ali di
Jakarta
4. Tuan Salam di Jakarta
5. dan masih banyak nama-
nama lain.
Ketika rekan-rekan Abdullah
memilih tinggal di kota-kota
besar, tidak demikian halnya
dengan Abdullah yang memilih
tinggal di salah satu kampung
bernama Lebaksiu Kidul Kab.
Tegal yang berjarak sekitar 21
km arah selatan kota Tegal
bersama isteri dan anak-
anaknya.
Perkembangan Martabak di
Indonesia pada kurun waktu
sekitar 1950 – 1990, tercatatlah
nama-nama tokoh sebagai
berikut :
Tegal : Dja’i bin Haji Sueb, Haji
Urip, Haji Abdur Rohim, Sumyad,
Muhidin, Gendon, Masan, Dahlan,
dan rekan-rekan.
Jakarta : Rumli bin Sanadi,
Mahsud, Mali, Tabud, Matlab, Haji
Hambali, Muanas, Haji Tobroni,
Luri, Muri, Tarmudi, Usup, Hudi, H.
Muripin, H. Tabri, H. Nur Abdullah
Hasan, Umar Hanafi, H. Toni
Dartam, Dakyani, dan rekan-
rekan.
Bogor : Rifai, Mawardi, Abdul
Wahid, Abdul Gofur, Maskam, Haji
Umar Sahir, dan rekan-rekan.
Bandung : Dasir, Mukdi, Salim,
Haji Mahun, dan rekan-rekan
Cianjur : Haji Surur, Makbul
Tamyid, dan rekan-rekan.
Yogya : Keluarga Besar Tuan
Muhammad, Haji Muhammad
Abdullah, Suud, Haji Bahroni, dan
rekan-rekan.
Makasar : Haji Imam Abdul
Manaf, Mashur Dja’i, Muhidin, Tori
Dannya, Haji Muanas Maad, H.
Wartono, H. Jurani, dan rekan-
rekan.
Manado : Haji Susalit, Matlub, Haji
Bedi, Warno, Haji Suyatno, Narto,
dan rekan-rekan.
Pontianak : Haji Abdul Kadir Ali,
Bambang Wage, Tori, dan rekan-
rekan.
Singkawang : Haji Jeni Saleh, dan
rekan-rekan.
Banjarmasin : Haji Muta’alim,
Paluruni Tori, H. Bedi, Sunarto,
dan rekan-rekan.
Semarang : Keluarga Besar Tuan
Hasan, dan rekan-rekan.
Palembang : Keluarga Besar
Tuan Haji Abdul Rozak (HAR) dan
rekan-rekan
Bekasi : Makmur Darnya, Otong,
Anwar, H. Saehudin, Saepudin,
dan rekan-rekan
Kuningan : H. Midi, dan rekan-
rekan
Tangerang : H. Tris, Heriyanto
Dja’i, Muhammad Abdul Bayasut,
Wahyu Patehi dan rekan-rekan
Sampit : Rozak Bayasut, Abdullah
Bayasut, Yazid Bayasut, dan
rekan-rekan.
Bontang : Haji Muhammad,
Untung, H. Sunarto, Saepu Torik,
dan rekan-rekan.
Jayapura : Haji Juremi, Haji Waud
Umar, Haji Tono Umar, dan
rekan-rekan.
Mataram : Haji Sahuri, Agus, dan
rekan-rekan.
Denpasar : Haji Mashur Dakup, H.
Toni, Luruh, Patehi, dan rekan-
rekan.
Kupang : Ruslan Sanusi, dan
rekan-rekan
Tasikmalaya : Djubaidi Ali, Balhi,
Maksudi, Sungib, Sopi, dan rekan-
rekan
Pekanbaru : H. Isro, dan rekan-
rekan
Bukittinggi (Sumbar) : Harar, dan
rekan-rekan
Itulah generasi kedua dan ketiga,
pada generasi keempat,
sekarang telah menyebar
keseluruh pelosok Indonesia.
Menu dagangannya pun tidak
hanya martabak saja namun
beberapa jajanan yang lain,
antara lain : donat, onde-onde,
pukis, pisang goreng, gandasturi,
tahu goreng, ayam goreng, dan
aneka macam makanan dan
jajanan.
Untuk luar negeri seperti Jeddah,
Saudi Arabia, para tokoh-
tokohnya adalah : Haji Adnan
Sowi, Haji Kana, Haji Mustakin,
Haji Agus Warto, Haji Zainudin
bin Ahmad, Haji Syaiful Bahri, Haji
Humaedi, dan rekan-rekan
lainnya.
Tokoh-tokoh wanita (Srikandi)
Lebakksiu:
1. Ibu Saimah Marjen
2. Ibu Hajjah Mary Wahid
Namun demikian sejarah
martabak Lebaksiu dapat
berkembang pesat seperti
sekarang ini tidak terlepas dari
dukungan moril maupun materil
dari tokoh-tokoh Lebaksiu non
martabak seperti:
1. Tabri (Mantan Lurah
Lebaksiu Lor)
2. H. Ikna Tjokroharsono
3. H. Bahrun (Mantan Lurah
Lebaksiu Lor)
4. KH. Samlawi (Mantan Lurah
Lebaksiu Kidul)
5. KH.Mafhud Thoha
6. Kamali rusbad (PLN)
7. Bang Ahmad (Mantan Lurah
Kajen)
8. H. DJubaidi Ahmad Baedowi
(PLN)
9. Drs. H. imam Sofwan
10. Drs. Kaprawi
11. Pandi (Gang Tongkang)
Jakarta
12. Drs. H. Bachruddin Nasori,
Msi
13. H. Ali DJured
14. Khozin Tamjid
15. H. Abdul Malik Tamjid
16. Ir. H. Ismaun Tjokroharsono
17. Marjono (Yon Kav)
Hasil kunjungan penulis di
sebagian kota-kota besar di
Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan
Australia tidak ditemukan jenis
Martabak Lebaksiu seperti yang
sudah diutarakan diatas.
Abdullah bin Hasan Almalibary
lahir di daerah Payoli, Distric
Meladi, “Kerala State South of
India” pada tahun 1901.
Meninggal dunia pada 1956 dan
dimakamkan di desa Lebaksiu
Kidul kecamatan Lebaksiu
Kabupaten Tegal Jawa Tengah.
Meninggalkan seorang isteri dua
anak laki dan dua anak
perempuan.
Isterinya bernama Masni ( Hajjah
Hasanah Masni ) binti Kyai Abdul
Karim, lahir di Lebaksiu Kidul
tahun 1918 dan meninggal
dunia pada tahun 2000.
Apabila ilmu membuat martabak
adalah sebuah ilmu yang
bermanfaat ( Al IlmuNafi ) dan
berguna bagi kemaslahatan
umat, maka dengan mengharap
ridho Allah Subhanahu wata’ala
semoga Abdullah bin Hasan
Almalibary beserta pengikut-
pengikutnya diterima amal
ibadahnya dan diampuni dosa-
dosanya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar